Cinta itu kamu. Tapi harus kulanjutkan hidupku

Mencintai hanya satu kali,

Begitu prinsip hidup yang sudah puluhan tahun menjadi pegangan hidupku

Saat pertama kali mengenalmu, saat itu aku tahu aku jatuh cinta padamu dan aku berjanji untuk menjadikanmu satu-satu nya di hidupku. Hampir gila waktu aku berusaha medekatimu, seorang mahasiswi kedokteran yang juga seorang aktifis di kampus, sedang aku hanya seorang mahasiswa sastra yang dekil, yang lebih suka bermain kode melalui puisi dibandingkan berbicara secara lantang bahwa aku menyukaimu. Tak hanya menyukaimu, lebih dari itu aku jatuh cinta padamu. “rasional lah..” kata sesama mahasiswa sastra padaku,

“dan bahkan seorang juliet saja bisa jatuh cinta kepada romeo. Apa sih yang tidak mungkin di dunia ini jika si cupid sudah melesatkan panahnya” aku menjawab dengan santainya, padahal jauh dalam hati aku menyiapkan tempat untuk patah hati.

 

Ya, begitulah takdir berkata. Entah bagaimana cupid menjalankan tugasnya, pada akhirnya aku berhasil menjadi satu-satunya yang memelukmu erat. Membangunkanmu dengan  sayang setiap pagi dan mendengarkan ocehan cerewetmu tiap aku lupa mematikan lampu. Takdir tuhan, begitu selalu kau menjelaskan kepada orang-orang mengapa pada akhirnya kau memilihku dari puluhan deret dokter dan pria-pria mapan yang mencoba mendekatimu. Anugerah tuhan, begitu aku menyebut keberadaanmu di hidupku.

 

Mencintai hanya sekali, begitupun aku yang pada akhirnya harus mengikhlaskan kepergianmu, kepergian yang menyisakan luka yang sangat dalam dan menganga. Selama 15 tahun kau mendampingi hidupku, aku adalah pria yang selalu tak ingin menjadi yang kedua, terkadang aku ingin menguncimu di dalam kamar, dan tak mengizinkanmu keluar hanya karena aku tak rela kau membagi senyummu. Sangat remaja memang, tapi begitulah berharganya kamu di hidupku. Beberapa kali aku berandai-andai bersamamu, apakah kau akan mencari penggantiku jika suatu saat ada suatu hal yang terjadi padaku. Kau akan memelukku erat, berkata bahwa kau tak akan membiarkanku meninggalkanmu.

 

Dan 5 tahun sejak kepergianmu, aku masih ingin memegang prinsip itu, bahwa aku hanya mencintaimu.

Hanya saja, hidup berjalan. Dan aku mulai merasa sepi. Kau tak lagi mendatangiku tiap malam dalam mimpiku, kau tak lagi menemaniku berbicara lewat fotomu yang ku pasang di depan meja makanku, kau tak lagi menceritakan padaku pasien-pasienmu yang unik atau ulah teman sejawatmu yang membuatmu mengerenyitkan dahi. Aku juga tak lagi mampu menuliskan puisi-puisi cinta untukmu, puisi tentang perjalanan yang kita tempuh hanya demi secangkir kopi atau bahkan hanya untuk kita menghirup udara dari himpitan kesibukan. Puisi-puisi kehilanganmu pun telah lama tak bernyawa, semua kenangan tlah tertulis dan mungkin aku telah terbiasa dengan ketiadaanmu disini.

 

Kita jatuh cinta hanya sekali.Masih aku ingin memegang prinsip itu. Hanya saja, hidup harus terus berjalan. Dan setiap manusia membutuhkan nyawa untuk melanjutkan hidupnya. Nyawa yang nyata yang berbagi cerita. Mungkin aku tak jatuh cinta. Hanya saja, aku membutuhkan jiwa baru untukku, jiwa yang akan melanjutkan mimpi jiwa yang telah mati.

Ya, aku jatuh cinta lagi

Bukan cinta yang sama dengan cinta di hati yang telah tergores luka kehilangan. Cinta yang memiliki level sama namun di tempat yang berbeda di hati.

Tenang di surga sayang,

Setidaknya kau tak perlu lagi menghawatirkanku akan kesepian.

Aku mencintaimu,

maka dari itu, aku akan melanjutkan hidupku.

Advertisements

Dear, My dearest you….

Jika semua hal harus dapat dijelaskan secara ilmiah, mungkin saat ini kita tak sedang duduk berdua disini. Tapi sesuatu yang ilmiah lah yang membuat kita sedang menikmati secangkir kopi bersama senyuman hangat di sudut kota.
Bertemu denganmu, saya rasa takdir yang membawakannya. Saat kamu yang seharusnya tak berada disana, tiba-tiba berada disana. Saat aku yang seharusnya berada disudut lain, berada di sampingmu pada saat itu. Saat hatiku yang tak berminat akan suatu hubungan yang mempengaruhi suatu pekerjaan profesional, luluh dengan perbincangan demi perbincangan, saat kita berdua seperti dua benua yang berbeda, tiba-tiba menjadi satu dan saling melengkapi. Kita berdua tak pernah bisa menjelaskan, kenapa pada akhirnya kita saling ingin memiliki. Faktor frekuensi, mungkin kita bisa meminjam istilah pak habibie ini, frekuensi kita tak sama namun komplemen. Tak masuk diakal bagi sebagian orang, dan bagi kita berdua, seorang gadis dengan kehidupannya yang membosankan, terlihat menarik dimata pria yang menghabiskan waktunya berpetualang. Sesuatu yang sangat bukan duniaku. Pun aku tak hendak menarikmu kedalam lautan asam basa laboratorium yang pasti sangat tidak menarik bagimu.Kamu anak yang anti kemapanan, sedangkan aku memiliki kehidupan yang sangat teratur, semua hal setiap minggunya telah pasti dan terencana dengan baik.
Namun, engkau adalah satu-satunya orang yang mengenalku dengan sangat cepatnya. Mengenal setiap detail kehidupan dan tanpa banyak bertanya. Mengenal semua kerumitan yang kadang ibu ku pun sulit untuk mengurainya. Satu-satunya pria, yang aku dengan tenang menyandarkan mimpi dipundakmu, seseorang yang menenangkanku hanya dengan senyumanmu. Seseorang yang tak pernah menertawakan sikap abstrakku. Mungkin itulah yang membuatku hati ini terjatuh kepadamu.
Kamu, seseorang yang berada di benua berbeda, benua yang kita ciptakan sendiri, benua yang terbatasi dua gunung merapi dan merbabu, yang menyapa pagiku dengan ucapan sayangmu, yang menina bobokanku dengan kisah-kisah menarik di kehidupanmu. Yang dengan hangat menggenggam tanganku saat kedinginan, yang memberiku kekuatan untuk selalu melangkah kedepan, Ingin kuucapkan selamat datang ke duniaku. Dunia yang mungkin akan kita perjuangkan bersama, perjuangan yang tak pernah kita janjikan untuk mudah. Hanya saja kita akan terus mengingat janji yang kita tuliskan di buku catatan masing-masing. Janji yang hanya kita bertiga ketahui. Ya, hanya aku kamu dan Tuhan ..
Kamu, pemberi warna di duniaku yang baru.
I love you. with inexplicable reasons. without knowing how, when or when. I love you straightforwardly, without complexities or pride. I love you, because It’s YOU.

cinta, berdamai dengan keadaan

Rumah sakit..

Aku lebih memilih kau omelin saat terlambat  menjemputmu  saat larut malam setelah jaga , atau kau paksa nyawa yang belum kembali ini untuk berdiri dan menembus dinginnya pagi untuk mengantarmu menunaikan kewajibanmu ke kantor, daripada melihatmu tergolek lemas dengan segala macam selang memenuhi tubuh dan juga wajah tengilmu.

“pulang dan istirahat kak, adek sudah di jaga sama tenaga kesehatan terbaik di Indonesia , jangan khawatir”  kamu berbisik dan memegang tanganku lemah, pucat pasi wajahmu mencoba tersenyum. aku menghela nafas dan membenahi letak selimut yang mulai berantakan. Rona wajah  penuh tipu muslihat agar aku mau menemani belanja dan artinya membayar semua tentenganmu yang terkadang seharga gaji ku sebulan, tertutupi mata sendu kesakitan. Aku tau kamu sakit, teori-teori kemoterapi sering sekali kamu ceritakan di meja makan saat kamu selesai membantu para ahli onkologi melakukan tindakan. Tapi, akulah yang paling tau juga, kamu akan berusaha menahan sakitmu itu saat ada aku disampingmu. Kamu bukan gadis lemah, itu yang selalu kamu bilang semenjak kamu memilih untuk keluar dari tempat nyaman bernama rumah orang tua, dan memutuskan untuk hidup bersamaku di sebuah kontrakan sempit di sudut kota.  Kamu mampu menyelesaikan semua sendiri, begitu katamu saat kau pulang dengan kalut karena berdebat dengan  masalah kantor atau sekedar bingung mengatur waktu antara rumah yang berantakan atau tugas-tugas kantormu yang menumpuk. Kau tak pernah mengizinkanku menyentuh semua hal berbau rumah tangga.

“Ya, sudah.. kakak keluar, kalau sakit bilang ke Ina, jangan di pendam sendiri.” Aku melirik perawat yang ada disampingku, dia adalah sahabatmu sejak kalian masih di sekolah menengah , dia juga yang membantumu untuk menutupi skala rasa sakitmu dariku dan keluarga  kita hingga hari ini. kamu mengangguk,  ina tersenyum, dia membawa setumpuk data rekam medismu. ingin aku mengambil dan membaca riwayat penyakitmu, tapi aku memilih untuk tidak tahu, sehingga aku bisa menghabiskan waktu bersama mu sebiasa mungkin. Tanpa rasa khawatir.

“ dek, kenapa?” kamu memegang hidungmu di wastafel sambil membiarkan air mengalir, mimisan. Pertama kalinya semenjak mengenalmu 10 tahun lalu aku melihatmu mimisan, kamu memberi isyarat untuk tidak melakukan apa-apa. Akupun hanya diam dan melihatmu dengan khawatir, kamu menyeka darah terakhir yang menetes dan tersenyum lebar

“duh, dasar anak teknik.. liat mimisan aja bingung. Ini mah kejadian biasa di manusia kakakku sayang, kan habis double shift dan pasien banyak jadinya adek overheated” kamu menjelaskan menyerocos. Aku kemudian tak mendengarkan lagi, karena istilah-istilah medis yang selalu kamu gunakan itu adalah hal yang paling menyebalkan darimu.  Aku mengambil tissue dari meja samping, mendekatkannya kepadamu, kamu mengambil dan mengeringkan tangan yang basah.  Kamu sangat terlihat tidak baik-baik saja. Sesungguhnya aku tidak perlu bertanya untuk tahu bahwa kamu tidak baik-baik saja, tapi aku lebih baik diam karena aku tahu dengan pasti, kau paling tidak suka di interogasi bahkan oleh orang terdekatmu. Ya, aku mengenalmu lebih dari aku mengenal diriku sendiri.

“ya udah, istirahat. Kakak berangkat kerja dulu. Jangan kemana-mana. Kakak teleponkan mama buat kesini ya dek?” aku mengikuti masuk ke dalam kamar dan mengambilkan segelas air putih, kamu tertawa

“adek sehat kakak, janji gak kemana-mana. Dan tidak perlu memanggil mama kesini. “  kamu berbaring di kamar, aku menghela nafas. Jangan pernah memaksakan kehendak kepadamu.  Itu adalah suatu peraturan tidak tertulis di rumah kita.

Aku keluar dari kamar, mengambil jaket dan berjalan menuju kantor, berdoa dalam hati dengan harap yang yang dalam. Bahwa kamu benar-benar baik-baik saja.

—-

“kenapa harus onkologi dek?” tanyaku pada suatu pagi pada saat kamu dengan bersemangat menceritakan mimpimu untuk menjadi seorang onkolog saat aku melihatmu bolak-balik menemui  para ahli kanker yang kau kenal semasa kamu mengambil profesi doktermu dulu

“because cancer is a killer kak. Dan dia itu ibarat anak muda yang merusak suatu kehidupan sosial.” Kamu menjawab tanpa memandangku, membuka-buka majalah fashion favoritmu. Aku mengambil duduk di depanmu, bukan hal biasa kau berbicara tanpa memandang mata lawan bicaramu, kau bukan gadis seperti itu.

“mulai pakai analogi yang kakak gak paham?” kamu menutup majalahmu,  melihatku dengan wajah polos dan mata lebarmu, mata yang selalu penuh selidik setiap aku pulang malam, dan mata yang selalu khawatir saat aku kehujanan sehabis pulang kantor. Mata yang membuat aku  benar-benar jatuh cinta untuk pertama kalinya. Yang berhasil membuatku menunggu selama lebih dari lima tahun untuk kemudian berani untuk mengutarakan rasa yang sudah hampir membunuhku.

“Jadi, seharusnya cell tubuh itu akan berganti saat yang tua mati, nah si kanker ini kak, dia itu karena nature dan nurture istilah psikologisnya, membuatnya menjadi cell tidak baik. Nature nya adalah genetik, nurture nya adalah paparan bahan dan hal-hal karsinogenik”  kamu memandangku tepat di mata, hatiku berdesir, dan serasa ada kupu-kupu di perutku. Dua tahun usia pernikahan kita dan kamu selalu berhasil membuatku jatuh cinta.  Aku mencium keningmu sekilas, memelukmu, pelukan yang paling menenangkan. Sesungguhnya, aku tidak pernah mengerti dengan istilah yang kau jelaskan. Tapi aku berjanji, akan menjaga mimpimu, jika aku tak bisa membantu mewujudkannya, aku akan selalu ada untuk menopangmu saat kau lelah.

“kakak, akan selalu ada untuk adik” kamu memelukku lebih erat.

——-

“bisa jelaskan ini ke kakak?”  aku menyodorkan hasil laboratorium tepat di wajahmu. kamu terkejut, jika ini ada dihari biasa, mungkin aku juga akan terkejut mendengar nada suaraku kepadamu. Kamu meletakan piring yang sedang kau cuci, membasuh tanganmu dan meneringkannya dengan tissue. Tersenyum dan duduk di kursi dapur, senyum itulah yang biasanya menenangkanku. tapi pagi ini, senyum itu menusuk hatiku.

“CLL? Berhenti menggunakan istilah medismu.  Jelaskan padaku tanpa satupun yang tertutupi” aku menahan hancurnya hatiku, kamu memeluk pinggangku dan menyandarkan kepalamu di bahuku .

“Yes, It’s cancer. Kanker darah, iya. Dia membunuh, Iya. Tapi dia tidak akan membunuhku secepat yang kakak pikirkan” kamu menjelaskan  dengan lembut, seperti itu aku sering melihatmu menjelaskan diagnosis pasienmu kepada keluaraganya. Tapi ini bukan pasien yang kita bicarakan, kita sedang membicarakanmu. Aku seperti orang bodoh yang gagal ujian nasional dengan grade rendah.

“dan sekarang yang sedang adek lakukan adalah berusaha membunuh kanker ini sebelum kanker ini membunuhku terlebih dahulu” aku merasakan bahuku hangat, kamu menangis. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana harus berekspresi, kalut-marah-sedih, semuanya menjadi satu.

“kapan kamu tau? Dan apa arti kakak untukmu dek? Selalu ada saat sedih dan bahagia? Remember?”

“ adek akan beritahu kakak, pasti itu. Hanya saja adek harus memastikan semua siap untuk treatment, kakak tahu, mengingatmu adalah satu-satunya cara untukku terus bertahan dan berjuang. Tak ingin melihatmu sedih, karena itu lebih membunuh semangatku daripada sel-sel pembunuh ini. “ aku menggenggam tanganmu, erat, tak ingin melepasnya. Persetan dengan semuanya. Kamu akan baik-baik saja. Dan aku akan baik-baik saja.

—-

“ raka… sudah selesai” ina memanggilku, aku mendongak dan berdiri dari ruang tunggu rumah sakit. Hari ini adalah test pasca kemoterapi kesekian mu. Pengambilan bone marrow, menghitung jumlah sel lymfosit muda, memastikan bahwa mereka tak lagi berada disana dalam jumlah abnormal.  Aku membaca semua hal dan  penelitian tentang leukimia yang kamu telah kumpulkan, mengatakan padamu aku sudah lebih pintar daripada para ahli onkologi yang selama ini kau temui, dan aku akan lebih bisa menyembuhkanmu daripada mereka yang tertulis di halaman awal buku-buku yang kau beli. Kau selalu tersenyum dan memelukku sambil mengiyakan, mungkin kamu terlalu sakit untuk berdebat denganku, tapi hanya itulah satu-satunya hal yang bisa kulakukan, yaitu menghiburmu.

“hello, beautiful…” aku mencium keningmu, kamu tersenyum ada sisa air disudut matamu, pasti kau menangis. Andaikan aku bisa menggantikan sakitmu, ah tidak. Aku tidak boleh sakit, karena jika aku sakit, aku hanya akan menambah beban mu

“sudah makan?” aku mengangguk berbohong, mana mungkin aku dapat menelan makanan saat setengah jiwaku berjuang di dalam sini dan tanpaku.

“besok hasil keluar. Harus siap dengan segala kemungkinan ya?” kamu menggenggam tanganku erat. Aku memegangnya lebih erat. Bukan untuk menguatkanmu, tapi untuk menguatkanku sendiri

—-

Menata satu persatu buku-buku favoritmu. Tidak berusaha untuk menghilangkan semua kenangan, hanya saja rasanya melihatnya seperti melihat mimpi-mimpimu yang harus terhenti.

Malam itu, sebelum hasil bone marrow mu keluar, kamu pergi dariku. Hasil clean dari sel kanker ternyata bukan suatu kepastian bahwa kau akan bertahan.  Mungkin tuhan lebih mencintaimu, tidak ingin melihatmu kesakitan lebih lama, dan membutuhkan satu lagi bidadari di surga.  Bidadari yang mulai saat ini akan masuk daftar doa ku untuk menemaniku kelak disana saat aku kembali dan menemuimu. dan hingga saat itu datang, aku akan terus berjuang, kembali berjalan dan berlari bersama waktu. Waktu tidak akan pernah menghapuskanmu, dia juga tidak menyembuhkanku. Waktu hanya akan membantuku berdamai dengan keadaan.

Selamat jalan cinta. Sampai jumpa di surga.

kepada sahabat berbagi mimpi

Hai.. apa kabar?
Pertanyaan yang tak pernah sekali pun kita tanyakan saat bertemu dan melepas rindu. Kita memang tak pernah bersikap saling romantis satu sama lain. Jika mereka bilang cinta harus diungkapkan dengan kata, hal ini tak berlaku bagi kita semua. Bagi kita cinta adalah tawa, dan sayang adalah saat dalam kurun waktu lama tak bersua, kita selalu punya frekuensi yang sama.
Lebih dari tujuh taun lalu kita saling mengenal. Kawah candradimuka lah yang mempertemukan kita, sebuah kisah klasik yang pasti masih kalian ingat jelas setiap sequence nya. Apabila kita satukan akan menjadi sebuah cerita hitam putih berdurasi panjang yang aku tak pernah sanggup menuliskannya karena takut ungkapan yang kupilih tak sesuai dan merusak keindahannya.
Menghabiskan waktu bersama adalah hal terbaik untuk berhenti sejenak dari himpitan dunia yang melelahkan, menertawakan kebodohan masa lalu sambil membicarakan mimpi masa depan. Mimpi-mimpi kita masing-masing. Bukan mimpi bersama yang kita tuliskan saat muda dulu.
Ah, rasanya baru kemaren kita sibuk dengan urusan tugas akhir, tapi hari ini kita sudah sibuk dengan tumpukan tugas kantor. Jika dulu kita selalu berjalan bersama dan beriringan, sekarang kita berjalan dengan dunia kita sendiri.
Saat raga lelah Kadang rindu kembali ke masa itu. Tapi kemudian, saat aku berhenti dan menoleh kebelakang, apa yang kupijak hari ini adalah mimpi yang aku tuliskan dengan kalian sebagi saksinya.
Jika teman adalah yang membantu berdiri saat terjatuh, maka sahabat adalah orang yang menertawakan sambil menopang untukmu kembali berjalan lurus. Ya, kalian sahabat. Yang mengenalku sejak aku belum bisa membedakan mana pensil alis, mana eye liner. Menertawakan ku saat aku mulai memakai highheels sambil memilihkan mana yang cocok buatku, yang selalu memeluk resah masa mudaku sambil berkata semua akan baik-baik saja. Kepada kalian, untuk pertama kalinya aku menumpahkan air mata pada yang tak berbagi DNA. Kalianlah yang membuat jogja selalu istimewa, walau kini aku telah meninggalkannya.

Teruntuk kalian,
Sahabat yang berbagi mimpi bersama.

KEPADA KELUARGA YANG TAK DISATUKAN PERSAMAAN DNA

Hai kalian, apa kabar? Pasti masih sibuk dengan segala tumpukan kertas dan suara komputer di tengah malam. Kalian pasti lelah? Terlihat dari senyum yang mulai menjadi barang mahal dan tawa terkadang hanya merupakan pelengkap suatu pergaulan.
Mungkin, kita perlu beristirahat sejenak. Melepaskan sejenak beban yang berada dipundak. Bukan untuk berhenti, hanya untuk duduk bersama dengan secangkir kopi di tangan sambil membicarakan langkah terbaik selanjutnya. Langkah yang akan kita ambil bersama-sama, dengan kaki yang lebih dari dua, tangan yang saling menopang, bahu yang saling bersandar dan jiwa yang saling mengingatkan.
Saat ini, bukan saatnya kita berhenti, karena sudah sejauh ini kita melangkah. kita sudah berada di tengah jalan untuk mencapai suatu tujuan. Untuk berbalik atau terus berjalan adalah dua hal yang sama-sama menyakitkan. Tapi percayalah, kita pasti akan menyelesaikan semua ini dengan baik. Karena kita berjalan bersama-sama. Saling menggenggam tangan untuk membantu berdiri saat salah satu dari kita terjatuh. Saling memeluk, dan menyiapkan bahu untuk saling bersandar apabila salah satu diantara kita mulai lelah. Telinga yang saling mendengar saat salah satu dari kita ingin menangis atau hanya sekedar menumpahkan rasa lelah.
Nanti, saat semua ini selesai, kita akan kembali duduk di ruang kecil di sudut kantor. Dengan kopi favorit di tangan kita, tersenyum dan bahkan saling menertawakan perjuangan kita dengan rasa syukur. Akan datang hari itu, hari yang kita perjuangkan sejak kemaren, hari ini, besok dan selanjutnya.
Dan selalu ingatlah akan satu hal, bahwa kita adalah keluarga,walaupun tanpa persamaan DNA. Karena kita disatukan akan suatu mimpi dan perjuangan yang sama. Dan setidaknya kita tak pernah berjalan sendirian.

Untuk Kaki Yang Sedang Lelah Melangkah

Berhentilah..

Kata itu yang saat ini ingin ku teriakan padamu, jari-jarimu sudah mulai melemah, telapakmu sudah mulai berdarah. Kau tak lagi sanggup menopang berat tubuh ini, kita akan terjatuh dan terluka jika kau memaksakan berlari.

Istirahatlah sejenak. Membiarkan tangan dan pikiran bekerja, memilihkan jalan yang tepat untukmu kembali melangkah. Jalan yang lebih indah untuk mata dan lebih halus agar tak melukaimu.

Izinkan kami berbaring, mengisi ke kosongan jiwa dengan mimpi-mimpi baru agar kamu lebih bahagia melangkah. Memenuhi rongga hati dengan cinta-cinta yang lain agar kamu kembali menari. Mengisi tubuh dengan energi agar dia kembali membantumu menopang berat beban diri.

Masuklah kamu kedalam selimut.

Kita tak berhenti selamanya, esok kita akan kembali berjalan. Menuju tujuan utama yang kemarin kita tuliskan bersama. Tapi hari ini, aku lelah mengikutimu dan aku tahu kamu sesungguhnya juga lelah, hanya kau selalu berusaha berdiri tegar dan memaksakan untuk terus berlari.

Selamat malam kakiku, telah kusiapkan sepatu baru untuk esok kita melanjutkan perjalanan.

Mari kita matikan sejenak bara semangat seiring dengan redupnya lampu kamar.

Untuk kaki yang sedang lelah melangkah

Berhentilah..

Kata itu yang saat ini ingin ku teriakan padamu, jari-jarimu sudah mulai melemah, telapakmu sudah mulai berdarah. Kau tak lagi sanggup menopang berat tubuh ini, kita akan terjatuh dan terluka jika kau memaksakan berlari.

Istirahatlah sejenak. Membiarkan tangan dan pikiran bekerja, memilihkan jalan yang tepat untuk kamu kembali melangkah. Jalan yang lebih indah untuk mata dan lebih halus agar tak melukaimu.

Izinkan kami berbaring, mengisi ke kosongan jiwa dengan mimpi-mimpi baru agar kamu lebih bahagia melangkah. Memenuhi rongga hati dengan cinta-cinta yang lain agar kamu kembali menari. Mengisi tubuh dengan energi agar dia kembali membantumu menopang berat beban diri.

Masuklah kamu kedalam selimut. Kita tak berhenti selamanya, esok kita akan kembali berjalan. Menuju tujuan utama yang kemarin kita tuliskan bersama. Tapi hari ini, aku lelah mengikutimu dan aku tahu kamu sesungguhnya juga lelah, namun kau selalu berusaha berdiri tegar dan memaksakan diri untuk terus berlari.

Selamat malam kakiku, telah kusiapkan sepatu baru untuk esok kita melanjutkan perjalanan.

Mari kita matikan sejenak bara semangat seiring dengan redupnya lampu kamar.